Dulu, sebelum pensiun, dapur buat saya cuma tempat lewat. Pagi buru-buru berangkat, malam pulang sudah capek, akhirnya makan di luar atau pesan antar. Sekarang, setelah dua tahun tidak lagi ke kantor, saya justru jadi orang yang paling sering pegang sendok kayu di dapur. Aneh rasanya kalau diingat, tapi begitulah kenyataannya.
Semua ini berawal dari satu kebiasaan kecil: tiap pagi saya masak bubur. Bukan bubur yang ribet, cukup bubur beras biasa dengan sedikit garam, lalu topping seadanya di kulkas. Awalnya cuma iseng karena lambung saya mulai rewel kalau sarapan kopi dan gorengan. Eh, lama-lama jadi ritual yang saya tunggu-tunggu.
Kenapa Bubur, Bukan Menu yang Fancy?
Jujur saja, saya sempat tergoda bikin menu sarapan yang "instagramable". Pernah suatu minggu saya coba bikin pancake, omelet isi keju, sampai roti bakar ala kafe. Hasilnya? Dapur berantakan, saya capek duluan, dan yang paling parah: saya jadi malas masak lagi besoknya.
Dari situ saya belajar satu hal yang mungkin terdengar sepele tapi penting banget buat kita yang sudah tidak muda lagi: resep yang bagus adalah resep yang bikin kamu mau masak lagi besok. Bukan yang paling enak di foto, bukan yang paling banyak dipuji, tapi yang cukup sederhana sampai tidak menguras tenaga.
Bubur cocok karena tiga alasan. Pertama, bahannya murah dan selalu ada. Kedua, prosesnya bisa sambil duduk—tinggal aduk sesekali, tidak perlu berdiri lama. Ketiga, perutnya nyaman. Buat saya yang lambungnya sudah tidak sepaket dengan usia 20-an, ini bukan hal kecil.
"Masak itu bukan soal jadi chef. Masak itu soal bikin hari kita sendiri lebih enak dijalani."
Resep Bubur Pagi yang Saya Pakai Sampai Sekarang
Ini resep yang sudah saya pakai berbulan-bulan dan tidak pernah gagal. Bahan dan caranya sengaja saya buat sesingkat mungkin, karena saya tahu tenaga kita pagi-pagi tidak sebesar dulu.
Bahan (untuk 2 porsi)
- 1 cangkir beras, cuci bersih
- 6 cangkir air (bisa ditambah kalau suka lebih lembut)
- 1 lembar daun salam (opsional, tapi bikin wangi)
- Garam secukupnya
- Topping: telur rebus, irisan daun bawang, sedikit kecap, atau apa pun yang ada di kulkas
Cara Masak
- Rebus air sampai mendidih, masukkan beras dan daun salam.
- Kecilkan api, aduk sesekali supaya tidak lengket di dasar.
- Masak sekitar 30-40 menit sampai beras pecah dan teksturnya lembut.
- Bumbui garam di akhir, koreksi rasa.
- Sajikan dengan topping sesuai selera.
Gampang, kan? Yang bikin beda bukan resepnya, tapi kebiasaannya. Saya masak bubur ini sambil duduk di kursi dapur, kadang sambil dengar radio. Tidak ada target, tidak ada tuntutan. Cuma 40 menit yang tenang sebelum hari benar-benar mulai.
Pelajaran yang Saya Dapat Setelah Berbulan-bulan
Ada beberapa hal yang saya sadari selama rutinitas ini berjalan, dan rasanya sayang kalau tidak saya bagikan ke teman-teman yang juga sudah masuk masa pensiun atau mendekatinya.
Pertama, masak itu terapi. Mungkin terdengar berlebihan, tapi mengaduk bubur pelan-pelan di pagi hari itu menenangkan. Tidak ada layar, tidak ada notifikasi. Cuma saya, panci, dan uap yang naik. Buat kepala yang dulu penuh deadline, ini mewah sekali rasanya.
Kedua, resep praktis itu soal kejujuran. Saya berhenti pura-pura punya energi seperti dulu. Kalau resepnya bikin saya capek, ya saya tinggalkan. Tidak perlu malu masak yang sederhana. Yang penting makanannya sehat dan kita yang masak tidak jadi stres.
Ketiga, masak sendiri bikin kita lebih sadar isi piring. Waktu masih kerja, saya tidak pernah benar-benar tahu berapa garam yang masuk ke badan. Sekarang, saya yang pegang garamnya sendiri. Buat usia kita, ini bukan soal gaya-gayaan—ini soal kesehatan yang harus dijaga pelan-pelan.
Dan satu lagi yang paling tidak saya duga: dapur jadi tempat berkumpul. Anak dan cucu yang datang berkunjung sekarang sering mampir ke dapur duluan, cuma buat lihat saya masak atau minta semangkuk bubur. Dulu mereka datang untuk nonton TV. Sekarang untuk makan bareng. Perubahan kecil yang rasanya hangat sekali.
Kalau Mau Mulai, Mulai dari yang Paling Mudah
Kalau kamu sedang membaca ini dan berpikir mau coba juga, saran saya satu: jangan mulai dari resep yang rumit. Mulai dari yang paling sederhana dan paling kamu suka. Bubur, telur dadar, tumis sayur, apa saja. Yang penting kamu masak hari ini, lalu masak lagi besok.
Rutinitas masak pagi ini tidak mengubah hidup saya secara dramatis. Saya tidak jadi chef, tidak jadi ahli gizi. Tapi ada yang berubah: hari-hari saya terasa lebih pelan, lebih saya kendalikan, dan lebih hangat. Dan untuk masa pensiun, sejujurnya itu sudah cukup.
Jadi, besok pagi, coba deh masak sesuatu sendiri. Tidak perlu yang ribet. Siapa tahu, seperti saya, kamu justru menemukan hal yang selama ini kamu cari tanpa sadar.